Tiga Kali Jatuh, Tiga Kali Bangkit dan Jalan Sunyi Menaklukkan Hidupnya Sendiri

Awal Kehidupan

Tidak semua orang berani mengakui kegagalan. Bahkan lebih sedikit lagi yang mau berdiri kembali berkali-kali tanpa kehilangan arah.

Andi Zul Saktriady Kaharuddin, SE—yang akrab disapa Ady—memilih jalan sunyi dalam hidupnya. Jalan itu tidak selalu orang lain pahami, penuh keraguan, tetapi justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.

Ia lahir di Ujung Pandang pada 1 Oktober 1994. Ia tumbuh di Makassar dalam lingkungan sederhana. Sejak kecil, ia menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya: belajar, bermain, dan perlahan memahami arti perjuangan.

Ia bersekolah di SD Negeri Pannara, kemudian SMP Negeri 23 Makassar, lalu SMA Negeri 19 Makassar.

Pilihan Pendidikan dan Keputusan Besar

Di usia muda, Ady memilih jalur keperawatan dan masuk ke STIKes Mega Rezky Makassar. Ia menjalani lima semester dengan harapan besar tentang masa depan dan arah hidupnya.

Namun pada satu titik, ia mengambil keputusan berat: berhenti kuliah.

Keputusan itu mengubah arah hidupnya secara total. Banyak orang menyebut langkah itu sebagai kegagalan, tetapi Ady memaknainya sebagai kejujuran terhadap dirinya sendiri.

Ia menyadari bahwa tidak semua perjalanan harus terus dipaksakan jika jalan itu tidak sesuai.

Tiga Kali Jatuh, Tiga Kali Bangkit

Setelah itu, hidupnya tidak berjalan mudah.

Ia jatuh, lalu mencoba lagi dan gagal. Ia bangkit, lalu jatuh kembali. Pola itu terjadi hingga tiga kali.

Di setiap fase itu, ia berada pada titik yang membuat banyak orang memilih berhenti. Namun ia tetap melangkah, meski perlahan.

Ia menghadapi kegagalan secara langsung dan mencoba memahami maknanya.

Dari proses itu, ia belajar bahwa kegagalan bukan musuh, melainkan guru paling jujur.

Membangun Ulang Hidup

Setelah melewati fase tersebut, Ady mulai membangun hidupnya kembali secara perlahan. Ia bergerak tanpa sorotan, tetapi dengan arah yang lebih jelas.

Ia melanjutkan studi di STIE Pelita Buana Makassar dan meraih gelar Sarjana Manajemen.

Bagi Ady, gelar itu bukan sekadar pencapaian akademik. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa ia berhasil melewati versi dirinya yang hampir menyerah.

Pengalaman Profesional dan Peran Baru

Perjalanan hidupnya membawa ia ke berbagai bidang. Ia ikut dalam proses demokrasi bersama Komisi Pemilihan Umum. Setelah itu, ia bekerja di pemerintahan pada bidang kepemudaan, protokol, dan komunikasi pimpinan.

Di setiap peran itu, ia mempelajari sistem kerja, memahami manusia, dan memikul tanggung jawab.

Pengalaman itu kemudian membawanya pada kepercayaan baru hingga ia memimpin sebagai General Manager di sebuah perusahaan.

Prinsip Hidup

Banyak orang menilai posisi itu sebagai keberhasilan. Namun Ady tidak menilai hidup dari jabatan.

Ia menilai keberhasilan dari kemampuan seseorang menjaga jati dirinya di tengah tekanan hidup.

Di tengah dunia yang menuntut kecepatan dan ambisi, ia tetap memegang satu prinsip sederhana:

“Jangan pernah berhenti menjadi orang baik.”

Membangun Dampak yang Lebih Luas

Bagi Ady, hidup tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia menggerakkan berbagai inisiatif untuk memberi dampak bagi orang lain, baik di dunia profesional maupun rencana sosial seperti lembaga bantuan hukum dan pengembangan media.

Dari semua pengalaman itu, ia menarik satu kesimpulan:

Hidup yang berarti adalah hidup yang memberi manfaat.

Penutup: Perjalanan yang Terus Berjalan

Perjalanan Ady belum selesai.

Bahkan mungkin, ini baru permulaan.

Karena bagi dirinya, hidup bukan tentang menghindari kegagalan, tetapi tentang menjadikannya pijakan untuk naik lebih tinggi.

Jatuh bukan akhir perjalanan. Jatuh justru bagian dari proses hidup membentuk siapa kita sebenarnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *