Makassar, Satria Insight – Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperbaiki kualitas kehidupan. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah tidak hanya menandai perubahan waktu, tetapi juga mengingatkan setiap Muslim agar terus meningkatkan keimanan, memperkuat akhlak, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik. (Rilisan: Selasa 16/06/26)
Momentum tersebut mengajak umat Islam untuk berhenti sejenak dari rutinitas sehari-hari. Setelah itu, setiap individu dapat melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap berbagai hal yang telah dijalani selama setahun terakhir.
Muhasabah Menjadi Bagian Penting Tahun Baru Islam
Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap pentingnya evaluasi diri. Melalui Surah Al-Hasyr ayat 18, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah mereka persiapkan untuk masa depan.
Referensi Al-Qur'an Surah Al-Hasyr Ayat 18 dapat diakses melalui situs resmi Kementerian Agama RI Klik Disini!
Karena itu, umat Muslim tidak cukup memaknai Tahun Baru Islam sebagai perayaan tahunan. Sebaliknya, mereka perlu menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki ibadah, memperkuat ketakwaan, dan meningkatkan kontribusi bagi lingkungan sekitar.
Muhasabah juga membantu seseorang mengenali kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Dengan cara itu, setiap Muslim dapat menyusun langkah yang lebih baik untuk menghadapi masa depan.
Hijrah Berarti Berubah Menjadi Lebih Baik
Sejarah Islam mencatat hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai peristiwa penting yang mengubah perjalanan dakwah Islam. Namun, makna hijrah pada masa kini tidak terbatas pada perpindahan tempat.
Hijrah juga berarti keberanian meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik. Selain itu, hijrah mengajarkan pentingnya perubahan sikap, pola pikir, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Referensi hadis Shahih Al-Bukhari dan Muslim dapat dilihat, Disini!
Dalam kehidupan modern, umat Muslim dapat menerapkan hijrah melalui berbagai langkah sederhana. Mereka dapat meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT, mengendalikan emosi, memperkuat kepedulian sosial, serta menjaga lisan dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.
Perkuat Ukhuwah di Tengah Kehidupan Sosial
Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, umat Islam juga perlu memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Oleh karena itu, semangat ukhuwah atau persaudaraan menjadi bagian penting dari makna hijrah.
Saat ini, masyarakat menghadapi berbagai tantangan sosial. Perbedaan pandangan sering memicu perdebatan berkepanjangan. Bahkan, sebagian orang mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk mengedepankan sikap saling menghormati. Selain itu, masyarakat perlu membangun budaya dialog, memperkuat toleransi, dan menghindari perilaku yang dapat memecah persatuan.
Islam mengajarkan bahwa persaudaraan memiliki posisi yang sangat penting. Melalui Surah Al-Hujurat ayat 10, Allah SWT menegaskan bahwa sesama orang beriman merupakan saudara.
Karena itu, umat Islam perlu menjaga persatuan, menghindari permusuhan, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Simak juga: "PDIP Makassar Napak Tilas Pahlawan Nasional"
Nilai Lokal Makassar Sejalan dengan Semangat Hijrah
Masyarakat Bugis-Makassar memiliki sejumlah nilai budaya yang selaras dengan ajaran Islam. Nilai tersebut antara lain Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge’.
Sipakatau mengajarkan masyarakat untuk saling memanusiakan. Sementara itu, Sipakalebbi menanamkan sikap saling menghormati. Adapun Sipakainge’ mengingatkan pentingnya saling menasihati dalam kebaikan.
Nilai-nilai tersebut dapat memperkuat kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, nilai tersebut juga membantu menjaga keharmonisan di tengah keberagaman yang ada di Kota Makassar.
Wujudkan Hijrah Sosial untuk Kemaslahatan Bersama
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi kesempatan untuk membangun perubahan yang lebih luas. Umat Muslim tidak hanya perlu memperbaiki diri secara pribadi, tetapi juga harus berkontribusi bagi masyarakat.
Masyarakat dapat memulai hijrah sosial dengan memperkuat keluarga, memakmurkan masjid, membantu sesama, dan mendukung berbagai kegiatan yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dengan demikian, Tahun Baru Islam tidak berhenti sebagai peringatan tahunan semata. Sebaliknya, momentum ini dapat menjadi titik awal lahirnya masyarakat yang lebih religius, harmonis, peduli, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Penulis:
Prof. Dr. KH. Arifuddin Ahmad, M.Ag
Tentang Penulis:
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar dan Muballigh Yayasan Islamic Centre IMMIM. Aktif dalam bidang dakwah, pendidikan Islam, dialog antarumat beragama, serta penguatan moderasi beragama di Indonesia.
Profil Penulis
Prof. Dr. KH. Arifuddin Ahmad, M.Ag merupakan Ketua FKUB Kota Makassar dan Muballigh IMMIM yang aktif menyampaikan dakwah, penguatan nilai-nilai keislaman, moderasi beragama, serta pembinaan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan.
