FUKUOKA — Ketua Tim PKM Pengabdian pada masyarakat sekaligus dosen Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia, Dr. Ir. Ritnawati, S.T., M.T., menggandeng Muslimun Fukuoka untuk mengembangkan Model Shelter Ramah Muslimah bagi Komunitas Migran Pascabencana di Kota Fukuoka, Jepang. Program ini menjawab kebutuhan pengungsian yang aman, inklusif, dan peka budaya bagi komunitas migran pascabencana. Inisiatif tersebut menjadi langkah nyata dalam memperkuat perlindungan warga migran di wilayah rawan bencana.
Program ini memperkuat ketangguhan komunitas migran di Fukuoka saat menghadapi bencana maupun masa pemulihan. Komunitas migran memiliki karakteristik serta kebutuhan yang sangat beragam. Mereka sering menghadapi kendala bahasa dan perbedaan budaya. Selain itu, pemahaman mereka terhadap sistem evakuasi Jepang masih terbatas. Kelompok rentan di tempat pengungsian juga memerlukan perhatian khusus.
Pendekatan Partisipatif dan Pengelolaan Berbasis Komunitas
Kelompok perempuan Muslimah memiliki kebutuhan yang sangat spesifik saat berada di pengungsian. Mereka membutuhkan jaminan privasi, keamanan perempuan dan anak, serta fasilitas ibadah. Sarana bersuci dan ketersediaan makanan halal juga menjadi poin krusial. Oleh karena itu, tim menyusun model shelter yang komprehensif. Model ini menyatukan fungsi perlindungan fisik dengan aspek sosial, budaya, gender, dan keagamaan.
Melalui kerja sama dengan Muslimun Fukuoka menerapkan pengembangan model shelter dengan pendekatan partisipatif secara langsung. Tim melibatkan komunitas migran dalam memetakan berbagai kebutuhan dan hambatan lapangan. Komunitas juga menentukan jenis fasilitas pengungsian yang paling mereka perlukan pascabencana.
Rancangan ini menghadirkan tempat pengungsian yang aman, nyaman, dan inklusif. Fasilitas ini ramah terhadap perempuan serta kelompok Muslimah. Model tersebut tetap menyelaraskan strukturnya dengan sistem penanggulangan bencana resmi di Jepang. Pendekatan ini berhasil menjembatani kebutuhan migran dengan sistem kebencanaan lokal.
Program ini tidak hanya menghasilkan bentuk fisik dari shelter Ramah Muslimah Fukuoka. Tim juga menawarkan model pengelolaan shelter berbasis komunitas migran. Sistem pengelolaan ini mengintegrasikan faktor keselamatan, privasi, dan komunikasi multibahasa. Selain itu, model ini mencakup pemenuhan kebutuhan keagamaan, perlindungan kelompok rentan, dan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi UMI dan Muslimun Fukuoka menjadi langkah strategis di Kota Fukuoka. Inisiatif ini efektif membangun ketangguhan komunitas migran lokal. Selain itu, program ini mempererat kerja sama bilateral Indonesia–Jepang. Sinergi kedua pihak menguatkan bidang teknik sipil, manajemen kebencanaan, dan pemberdayaan masyarakat.
